Kesiapan Menghadapi Tantangan
(Adversity Quotion
Tantangan begitu identik dengan kehidupan manusia.Adversity Quotient, merupakan
suatu penilaian yang mengukur bagaimana respon seseorang dalam menghadapai
masalah untuk dapat diberdayakan menjadi peluang.Adversity quotient dapat
menjadi indikator seberapa kuatkah seseorang dapat terus bertahan dalam suatu
pergumulan, sampai pada akhirnya orang tersebut dapat keluar sebagai pemenang,
mundur di tengah jalan atau bahkan tidak mau menerima tantangan sedikit
pun.Adversity Quotient dapat juga melihat mental taftness yang
dimiliki oleh seseorang.Dalam Adversity Quotient, kelompok atau tipe
orang/individu dapat dibagi menjadi tiga bagian, dimana hal ini
melihat sikap dari individu tersebut dalam menghadapi setiap masalah
dan tantangan hidupnya. Kelompok/tipe individu tersebut, antara lain adalah:
1.QUITTER
Tipe seperti ini adalah tipe
manusia yang selalu menyerah dengan keadaan dan yang tak ingin menghadapi
masalah atau bisa dikatakan setiap ada masalah yang datang ia selalu ketakutan,
sering orang menyebutnya sebagai manusia pengecut. Ia selalu berpikir “Aku
takut jika harus melaluinya! Masalah ini terlalu berat bagiku!” dsb.. dsb..
Seorang quiter yang parah bahkan akan sering melihat sebuah masalah lebih besar
daripada yang seharusnya ia lihat. Manusia quitter adalah manusia yang sulit
dan tidak senang melakukan perubahan. Quitter menolak
untuk mendaki lebih tinggi lagi, kemampuannya kecil atau bahkan tidak ada sama
sekali; mereka tidak memiliki visi dan keyakinan akan masa depan. Bisa
dipastikan kehidupan seorang quitter adalah kehidupan yang tidak menyenangkan
dan datar – datar saja.
2.CAMPER
Camper adalah orang yang berhenti
dan tinggal di tengah pendakian. Tipe camper masih bisa dikatakan berani
menghadapi tantangan dibandingkan dengan quitter namun sayangnya hanya hingga
waktu atau batas tertentu saja. Umumnya camper terlalu sering kehilangan fokus
tujuannya karena setelah mencapai tingkat tertentu dari pendakiannya maka ia
kemudian berpaling untuk menikmati kenyamanan dari hasil pendakiannya
diumpamakan sebagai orang yang sedang berkemah, ketika melihat tanah yang datar
dan pemandangan yang indah disekelilingnya maka sesegera mungkin ia mengakhiri
pendakiannya bahkan menikmati waktu tersebut untuk bersuka-ria, bersantai dan
tidak berupaya untuk mengatasi kesulitan yang sedang dihadapi (tidak mau
meninggalkan zona nyaman yang telah dicapainya). Camper cenderung selalu merasa
cepat puas dengan apa yang dicapainya. Lambat laun tantangan pun semakin berat
dan persaingan pun semakin ketat, akhirnya camper dapat berubah menjadui
quitter karena hilangnya semangat dalam berjuang.
3.CLIMBER
Pantang menyerah itulah gambaran
dari tipe climber. Climber adalah orang yang berhasil mencapai puncak
pendakian. Mereka tak kenal lelah dan senantiasa terfokus pada usaha pendakian
tanpa menghiraukan apapun keadaan yang dialaminya, tak peduli panas ataupun
hujan. Selalu memikirkan berbagai macam kemungkinan, jika ia menemukan ada
hambatan batu di atas gunung sana, ia mencari jalan lain. Tipe climber selalu
menyambut baik setiap perubahan, bahkan ikut mendorong setiap perubahan
tersebut ke arah yang positif. Terkadang memang mereka mundur dan merasa lelah,
tetapi itu adalah hal yang alamiah dari suatu pendakian dan mereka senantiasa
mempertimbangkan dan mengevaluasi hasil pendakiannya untuk kemudian bergerak
lagi maju hingga puncak pendakian tercapai. Hidupnya “lengkap” karena telah
melewati dan mengalami semua tahapan sebelumnya. Mereka menyadari bahwa akan
banyak imbalan yang diperoleh dalam jangka panjang melalui “langkah-langkah
kecil” yang sedang dilewatinya. Hanya seorang climberlah yang sanggup menikmati
kepuasan yang seutuhnya dan menjadi inpirasi sukses bagi banyak orang.
Merupakan kelompok orang yang kurang
memiliki kemauan untuk menerima tantangan dalam hidupnya. Hal ini secara tidak
langsung juga menutup segala peluang dan kesempatan yang datang menghampirinya,
karena peluang dan kesempatan tersebut banyak yang dibungkus dengan masalah dan
tantangan. Tipe quiter cenderung untuk menolak adanya tantangan serta
masalah yang membungkus peluang tersebut.Merupakan kelompok orang yang sudah
memiliki kemauan untuk berusaha menghadapai masalah dan tantangan yang ada,
namun mereka melihat bahwa perjalanannya sudah cukup sampai
disini. Berbeda dengan kelompok sebelumnya (quiter), kelompok ini
sudah pernah menima, berjuang menghadapi berbagai masalah yang ada dalam suatu
pergumulan / bidang tertentu, namun karena adanya tantangan dan masalah yang
terus menerjang, mereka memilih untuk berhenti di tengah jalan dan berkemah.Merupakan
kelompok orang yang memilih untuk terus bertahan untuk berjuang menghadapi
berbagai macam hal yang akan terus menerjang, baik itu dapat berupa masalah,
tantangan, hambatan, serta hal – hal lain yang terus dapat setiap harinya.
Kelompok ini memilih untuk terus berjuang tanpa mempedulikan latar belakang
serta kemampuan yang mereka miliki, mereka terus mendaki dan mendaki
Adversity Quotient memiliki 4 dimensi yang masing – masing merupakan bagian dari sikap seseorang menghadapai masalah. Dimensi – dimensi tersebut antara lain adalah:
1. C = ControlMenjelaskan mengenai bagaimana seseorang memiliki kendali dalam suatu masalah yang muncul. Apakah seseorang memandang bahwa dirinya tak berdaya dengan adanya masalah tersebut, atau ia dapat memengang kendali dari akibat masalah tersebut
2. Or = OriginMenjelaskan mengenai bagaimana seseorang memandang sumber masalah yang ada. Apakah ia cenderung memandang masalah yang terjadi bersumber dari dirinya seorang atau ada faktor – faktor lain diluar dirinya.Ow = OwnershipMenjelaskan tentang bagaimana seseorang mengakui akibat dari masalah yang timbul. Apakah ia cenderung tak peduli dan lepas tanggung jawab, atau mau mengakui dan mencari solusi untuk masalah tersebut
3. R = ReachMenjelaskan tentang bagaimana suatu masalah yang muncul dapat mempengaruhi segi-segi hidup yang lain dari orang tersebut. Apakah ia cenderung memandang masalah tesebut meluas atau hanya terbatas pada masalah tersebut saja.
4. E = EnduranceMenjelaskan tentang bagaimana seseorang memandang jangka waktu berlangsungnya masalah yang muncul. Apakah ia cenderung untuk memandang masalah tersebut terjadi secara permanen dan berkelanjutan atau hanya dalam waktu yang singkat saja.Secara garis besar, kunci keberhasilan menghadapi tantangan kehidupan yang semakin berat adalah bersikap optimis, atau memupuk ketahanan mental. Kalau dalam peribahasa Tionghoa dikatakan, “Nian nian nan guo, nian nian guo.” Artinya kehidupan setiap tahun akan semakin sulit, tetapi dengan ketabahan semua tantangan itu akan dapat dilalui dengan baik. Sementara di tengah tantangan itu kita juga harus bertindak lebih bijaksana dan berhati-hati.Petiklah manfaatnya dengan menjadikan tantangan tersebut sebagai motivasi untuk memperbaiki diri, meliputi memperbaiki pola pikir, sikap, meningkatkan kekuatan spiritual, etos kerja, kemampuan dan lain sebagainya. “Jangan berharap sesuatu yang lebih baik, berharaplah Anda yang lebih baik,” kata Jim Rohn. Bila hal itu kita lakukan, maka dalam jangka waktu tertentu kita akan mampu mengerjakan suatu pekerjaan atau peluang baru dengan lebih baik dan mental yang lebih kuat
.Referensi:
* www.google.com
*Soft & skill of Nursing
Entrepreneur by Iyus Yoseph
*Tukang Kayu by Hery Wibowo